Al-Qur’an memberikan banyak gambaran indah tentang Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah ayat:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Melalui ayat ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Nabi SAW dan kehidupan beliau adalah titik rujukan bagi orang-orang beriman di berbagai ruang dan waktu untuk diteladani dan dipelajari. Bahkan, salah satu misi utama kenabian beliau adalah menyempurnakan akhlak yang mulia. Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Hal ini menunjukkan betapa pembangunan karakter dan sifat-sifat baik memegang peran penting dalam kemajuan kemanusiaan dan dunia. Mulai dari ibadahnya hingga kepribadiannya yang santun, beliau benar-benar sumber rahmat dan teladan yang luar biasa.
Banyak Muslim, bahkan non-Muslim, terus mencari informasi tentang Nabi Muhammad SAW di Google. Beberapa pertanyaannya mungkin tampak sederhana, namun fakta bahwa hal itu sering dicari menunjukkan betapa Nabi Muhammad tetap menjadi pusat perhatian di hati banyak orang.
Berikut adalah beberapa pertanyaan tentang Nabi Muhammad SAW yang sering dicari secara daring oleh sebagian orang:
1. Bagaimana Cara Nabi Makan?
Nabi SAW tidak pernah membuang-buang makanan dan tidak pula berlebihan dalam mengonsumsinya. Sahabat Ka’ab bin Malik RA menceritakan kepada kita bagaimana Nabi SAW makan dengan tiga jari, lalu menjilatinya untuk menghindari makanan terbuang sia-sia.
Riwayat lain dari Anas bin Malik RA menyebutkan bahwa Nabi SAW menyukai ‘thufl’. Abdullah bin Abdurrahman RA kemudian menjelaskan bahwa thufl adalah sisa-sisa makanan (yang menempel di wadah). Hal ini menunjukkan kesederhanaan Nabi dan sikap positif beliau dalam mengubah keterbatasan menjadi sesuatu yang terpuji dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Beliau tidak pernah mengeluh atau mencela makanan yang dihidangkan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, Nabi SAW pernah meminta lauk kepada keluarganya untuk dimakan bersama roti. Sayangnya, di rumah beliau saat itu hanya ada cuka. Menanggapi hal tersebut, Nabi SAW bersabda:
نِعْمَ الإِدَامُ الْخَلُّ
“Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. At-Tirmidzi)
Beliau selalu membesarkan hati orang lain dan tidak suka merendahkan siapapun. Yang terpenting, beliau memandang makanan sebagai kebutuhan, namun bukan sebagai ambisi utama.
Ini bukan berarti Nabi tidak menyukai makanan tertentu, itulah sebabnya beliau lebih suka makan roti dengan lauk daripada hanya roti polos.
Ada riwayat yang menyebutkan Nabi menyukai makanan yang mengandung ‘tawabil’ (rempah-rempah) dan terkadang beliau juga suka makan daging. Beliau bahkan secara spesifik menyukai bagian paha depan kambing, sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidatina Aisyah RA. Meski demikian, beliau tidak sering makan daging.
Begitulah pola makan Nabi SAW yang seimbang. Beliau juga moderat dalam porsinya, tidak pernah mengisi perutnya hingga benar-benar kenyang, bahkan terkadang tidur dalam keadaan lapar, ini membuktikan hidup beliau yang sangat bersahaja.
Setelah makan, Nabi SAW akan memuji Allah SWT atas nikmat makanan tersebut, memberikan contoh agar kita senantiasa bersyukur dan mengingat sumber dari segala rezeki. Setiap tindakan, bahkan aktivitas harian, bernilai ibadah jika dilakukan atas nama Allah Yang Maha Kuasa.
2. Mengapa Nabi Muhammad Puasa Senin dan Kamis?
Ketika ditanya alasan berpuasa pada hari Senin, Nabi SAW menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
“Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau wahyu diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim)
Nabi SAW berpuasa pada hari Senin karena itu adalah hari kelahirannya. Beliau merayakan hari lahirnya dengan ibadah dan rasa syukur kepada Allah SWT. Dalam hadits lain, beliau bersabda:
تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Amal-amal perbuatan dilaporkan pada hari Senin dan Kamis. Maka aku ingin amalku dilaporkan saat aku sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi)
3. Apakah Nabi Muhammad Mempunyai Kucing?
Nabi SAW tidak memelihara kucing secara khusus di rumahnya, namun kucing banyak berkeliaran di jalanan pada masa itu. Ada cerita populer tentang seekor kucing yang tidur di atas jubah Nabi SAW saat beliau duduk. Ketika hendak berdiri, beliau memotong bagian jubah tersebut agar si kucing tidak terganggu tidurnya. Beberapa riwayat menyebut nama kucing itu Muezza.
Namun, kisah spesifik ini tidak dapat dilacak dalam hadits shahih atau kitab-kitab hadits rujukan yang enam (Kutubus Sittah). Beberapa menghubungkannya dengan Abu Hurairah RA. Namun, Imam Adh-Dhahabi dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala justru mengaitkan kisah tersebut dengan ulama sufi terkenal, Syekh Ahmad Ar-Rifa’i, bukan kepada Nabi SAW.
Terlepas dari itu, Nabi SAW sangat menekankan agar kita merawat hewan peliharaan dengan baik. Beliau memperingatkan kita melalui kisah berikut:
“Seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati. Maka ia masuk neraka karenanya, karena ia tidak memberinya makan maupun minum saat mengurungnya, dan tidak pula melepaskannya untuk memakan serangga di bumi.” (HR. Al-Bukhari)
Ini menunjukkan pentingnya tanggung jawab kita terhadap hewan. Hal ini tidak hanya berlaku untuk kucing, tetapi juga hewan lain. Nabi SAW juga menceritakan kisah seseorang dari umat terdahulu:
“Ketika seekor anjing berputar-putar di sekitar sumur dan hampir mati karena haus, seorang pelacur dari Bani Israil melihatnya, lalu ia melepas sepatunya dan memberi anjing itu minum. Maka Allah mengampuninya karena amal baik tersebut.” (HR. Al-Bukhari)
Imam Al-Qurtubi berkomentar bahwa orang tersebut masuk surga karena kasih sayang tersebut.
4. Bagaimana Rupa Fisik Nabi Muhammad?
Banyak riwayat yang menggambarkan penampilan fisik Nabi secara detail. Wajar jika seseorang mencintai orang lain, ia akan memperhatikan setiap detail kekasihnya. Begitulah para sahabat saat menggambarkan beliau. Salah satunya adalah hadits dari Al-Bara’ bin ‘Azib RA:
“Rasulullah SAW adalah orang yang berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Fisiknya bagus. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Kulitnya cerah kemerahan. Jika beliau berjalan, beliau berjalan dengan tegap dan sedikit condong ke depan.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam hadits lain oleh Jabir RA:
“Aku pernah melihat Rasulullah SAW pada malam bulan purnama. Beliau mengenakan pakaian berwarna merah. Aku terus memandang beliau dan rembulan secara bergantian. Bagiku, beliau jauh lebih indah daripada bulan purnama tersebut.” (HR. At-Tirmidzi)
Nabi SAW dikaruniai kesempirnaan baik lahir dan batin. Beliau juga selalu menjaga penampilan agar orang lain merasa nyaman di dekatnya. Beliau sangat menyukai wewangian, menjaga kerapian rambut dengan menyisir dan memakai minyak rambut.
Dalam kitab Syamail Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi, kita dapati bahwa beliau lebih suka pakaian yang sederhana namun pantas, tanpa ada kesan kemewahan yang berlebihan atau kesombongan. Beliau juga menekankan kebersihan pakaian karena Allah mencintai kebersihan.
5. Bagaimana Cara Nabi Muhammad Tidur?
Setiap kali hendak tidur, Nabi SAW membaca doa:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
“Dengan nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.”
Dan saat bangun tidur, beliau mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami (tidur) dan kepada-Nyalah tempat kembali.” (HR. Al-Bukhari)
Bahkan cara tidur beliau menunjukkan semangat untuk bangun shalat malam (Tahajud). Beliau tidak tidur berlebihan.
Abu Qatadah RA menceritakan:
“Jika Nabi SAW beristirahat di malam hari, beliau tidur berbaring di sisi kanannya. Dan jika beliau beristirahat menjelang subuh, beliau menegakkan lengan bawahnya dan meletakkan kepalanya di telapak tangannya.” (HR. Muslim)
Ini dilakukan agar beliau tidak tertidur terlalu pulas sehingga terlewat waktu Subuh.
6. Bagaimana Nabi Muhammad Menjalani Hidupnya?
Nabi Muhammad SAW menjalani hidup yang penuh cinta, kasih sayang terhadap makhluk, dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Beliau mencapai puncak ketundukan (ubudiyah). Nilai utama dalam hidup beliau adalah keseimbangan, keikhlasan, dan keunggulan (ihsan). Hal ini terlihat dalam sabdanya:
“Lakukanlah amal kebajikan dengan benar, ikhlas, dan moderat (tidak berlebihan). Ketahuilah bahwa amalmu tidak akan memasukkanmu ke surga, dan amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dilakukan (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari)
Meskipun menghadapi banyak ujian berat, Nabi SAW adalah orang yang paling banyak tersenyum. Beliau memiliki harapan yang sangat kuat kepada Allah.
7. Bagaimana Nabi Muhammad Memperlakukan Putrinya?
Di zaman ketika perempuan belum mendapatkan posisi yang layak, Nabi SAW memperlakukan putri-putrinya dengan hormat dan tidak malu menunjukkannya. Sayyidatina Aisyah RA menceritakan:
“Jika Nabi melihat Fatimah datang, beliau menyambutnya, berdiri untuknya, menciumnya, memegang tangannya dan mendudukkannya di tempat duduk beliau. Begitu pula saat Nabi mengunjunginya, Fatimah akan berdiri menyambut, mencium beliau, dan mendudukkan beliau di tempat duduknya.” (HR. Al-Bukhari)
Beliau juga sangat lembut kepada cucu-cucunya, Hasan dan Husain RA. Bahkan saat shalat, beliau membiarkan cucunya naik ke punggungnya saat sujud, dan beliau sengaja memanjangkan sujudnya sampai sang cucu turun dengan sendirinya.
8. Mengapa Nabi Muhammad Hijrah ke Madinah?
Pertama dan terutama, Nabi SAW berhijrah karena menerima wahyu, itu adalah perintah Ilahi. Para pengikutnya terus dikejar dan ditindas oleh kaum Quraisy, bahkan nyawa Nabi pun terancam melalui upaya pembunuhan. Di saat yang sama, penduduk Yathrib (kemudian menjadi Madinah) siap menyambut dan memberikan perlindungan. Di sanalah beliau membangun komunitas yang sukses menyebarkan kebaikan dan keadilan.
9. Khutbah Terakhir Nabi Muhammad
Khutbah terakhir beliau (Khutbah al-Wada’) menekankan inti pesan Islam bagi kemanusiaan: persaudaraan dan penghapusan rasisme.
Beliau mengajarkan: “Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas orang Arab; tidak ada kelebihan orang berkulit putih atas hitam, atau hitam atas putih, kecuali karena takwa dan amal salehnya.”
Beliau juga menekankan pentingnya keadilan dan memperlakukan wanita dengan baik. Khutbah ini disampaikan pada saat Haji Wada’ di hari Arafah.
10. Di Mana Nabi Muhammad Dimakamkan?
Nabi SAW dimakamkan di tempat beliau wafat, yaitu di kamar Sayyidatina Aisyah RA, yang sekarang berada di dalam Masjid Nabawi di Madinah, di bawah Kubah Hijau yang megah. Di samping makam beliau, terdapat makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar RA.
11. Kapan Nabi Muhammad Wafat?
Sayyidatina Aisyah RA meriwayatkan: “Rasulullah SAW wafat pada hari Senin.” (HR. Al-Bukhari). Mayoritas ulama berpendapat beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriah. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa beliau wafat pada tanggal 28 safar.
12. Apakah Nabi Muhammad Seorang Pecinta Lingkungan?
Nabi SAW mengajarkan kita untuk menjaga lingkungan sebagai amanah. Beliau melarang pemborosan air, bahkan saat berwudhu di tepi sungai yang mengalir sekalipun. Beliau juga melarang penebangan pohon yang tidak perlu, bahkan dalam situasi perang. Pesan utamanya adalah:
“Sayangilah makhluk yang ada di bumi, maka engkau akan disayangi oleh Yang ada di langit.” (HR. At-Tirmidzi).
13. Bagaimana Cara Mencintai Rasulullah?
Mencintai Nabi SAW bukan sekadar ucapan lisan, tapi melalui tindakan nyata dengan mengikuti ajarannya. Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia benar-benar mencintaiku. Dan barangsiapa yang mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga.” (HR. At-Tirmidzi)
Cara mencintainya adalah dengan mempelajari sirah (sejarah hidupnya), meneladani akhlaknya, dan senantiasa bershalawat kepadanya.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad.
Penutup
Nabi Muhammad SAW adalah teladan sepanjang masa. Allah SWT paling mengetahui apa yang terbaik bagi kita, itulah sebabnya Beliau menjadikan Rasulullah sebagai uswah (contoh). Semoga Allah memudahkan kita untuk mengikuti jejak indah Nabi SAW, baik secara lahir maupun batin.
Wallahu a’lam bish-shawabi.

