Kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an, dengan berbagai peristiwa dan kejadian yang dikandungnya, memuat banyak pelajaran, hikmah, dan nasihat yang berharga. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, kisah Nabi Musa—demikian pula kisah para nabi lainnya—mengajarkan kepada setiap muslim di setiap waktu dan tempat untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan, dengan kekuatan tanpa kelemahan, dan dengan tekad tanpa rasa malas.
Kedua, bahwa apabila Allah menghendaki suatu urusan, maka Dia akan menyiapkan sebab-sebabnya dan memudahkan jalan-jalannya. Apabila penjagaan Allah meliputi seorang hamba, maka Dia akan melindunginya dari seluruh musuhnya, betapa pun besar tipu daya dan kekuatan mereka.
Perlindungan Allah kepada Nabi Musa membuat beliau tetap aman hidup di tengah kekuatan kezaliman dan tirani.
Ketiga, orang-orang baik adalah mereka yang pada setiap fase kehidupannya selalu berpihak kepada orang yang dizalimi, memberikan dukungan dan pertolongan, serta berdiri menghadapi orang zalim hingga ia berhenti dari kezalimannya.
Mereka juga siap membantu siapa pun yang membutuhkan, dan senantiasa berpihak kepada kebenaran, keadilan, dan akhlak mulia dalam setiap keadaan.
Keempat, bahwa kebenaran tidak akan pernah kehilangan pembelanya, walaupun jumlah orang-orang batil sangat banyak. Contohnya adalah seorang mukmin dari keluarga Pharaoh.
Demikian pula sunnatullah menetapkan bahwa Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan berdusta atas nama Allah.
Kelima, apabila iman telah meresap ke dalam hati, seseorang akan rela mengorbankan apa pun demi mempertahankannya. Pengaruh iman yang meresap ke dalam hati yang sadar mampu melahirkan keajaiban. Para penyihir keluarga Fir‘aun berkata ketika kebenaran yang dibawa Nabi Musa tampak jelas bagi mereka:
لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ
“Kami tidak akan mengutamakan engkau daripada bukti-bukti nyata yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami, maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan.”
(QS. Thaha: 72)
Al-Zamakhsyari berkata, “Maha Suci Allah, sungguh menakjubkan keadaan mereka! Baru saja mereka melemparkan tali dan tongkat demi kekafiran, lalu tak lama kemudian mereka menjatuhkan kepala mereka untuk bersyukur dan bersujud. Betapa besar perbedaan antara dua lemparan itu!”
Keenam, orang-orang bijak dan saleh terkadang berbeda sikap dalam menghadapi suatu peristiwa. Masing-masing bertindak sesuai ijtihadnya, namun apabila jelas kebenaran pendapat saudaranya, ia akan kembali kepada pendapat itu.
Contohnya adalah sikap Nabi Harun terhadap para penyembah anak sapi dan teguran Nabi Musa kepadanya.
Ketujuh, sunnatullah dalam kehidupan ini menetapkan bahwa kemenangan dan ganjaran pada akhirnya akan diberikan kepada orang-orang baik, sedangkan kehinaan dan hukuman akan menimpa orang-orang jahat.
Kemenangan memerlukan pertolongan Allah, tawakal kepada-Nya, tekad yang tulus, dan usaha yang nyata. Contohnya adalah keselamatan Nabi Musa dan pengikutnya serta tenggelamnya Fir‘aun dan bala tentaranya.
Kedelapan, para dai hendaknya menggunakan kelembutan dan kasih sayang dalam dakwah, serta menjauhi kekerasan dan kekasaran. Sebab Allah memerintahkan Nabi Musa—salah satu nabi pilihan-Nya—untuk berbicara lembut kepada Fir‘aun, pemimpin para tiran.
Kesembilan, para tiran di setiap zaman selalu mengandalkan kekuatan materi untuk mempertahankan kekuasaan, syahwat, dan singgasana mereka. Demi itu semua, mereka menghalalkan segala cara.
Ketika melihat kebenaran mulai mengancam mereka, mereka akan menuduh para pembawa kebenaran dengan berbagai tuduhan dusta:
إِنَّ هَؤُلَاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ
“Sesungguhnya mereka itu hanyalah golongan kecil.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 54)
Kesepuluh, para penguasa zalim selalu menyerang kebenaran dengan berbagai cara batil, lalu mengklaim di hadapan rakyat bahwa semua itu dilakukan demi kepentingan masyarakat.
Kesebelas, ketika kebenaran mendesak para tiran dan bukti yang nyata mengejar mereka, kesombongan membuat mereka enggan kembali kepada kebenaran. Mereka lebih menyukai kezaliman daripada petunjuk.
Kedua belas, para tiran biasanya meremehkan pengikutnya, dan para pengikut sering menaati pemimpin mereka meskipun dalam kebatilan:
مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَىٰ وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ
“Aku tidak menunjukkan kepada kalian kecuali apa yang aku pandang baik, dan aku tidak menunjukkan kepada kalian selain jalan yang benar.”
(QS. Ghafir: 29)
Dan Allah berfirman:
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ
“Maka Fir‘aun mempengaruhi kaumnya, lalu mereka menaatinya.”
(QS. Az-Zukhruf: 54)
Ketiga belas, kebatilan mungkin memukau pandangan manusia untuk sementara waktu, bahkan menimbulkan ketakutan, sehingga tampak seolah-olah kuat dan tak terkalahkan. Namun ketika kebenaran yang kokoh menghadapinya, kebatilan itu akan lenyap.
Keempat belas, para pendukung kezaliman sepanjang zaman selalu menganggap dakwah kepada Allah sebagai kerusakan di muka bumi, karena dakwah itu mengancam kekuasaan mereka dan membebaskan manusia dari penindasan.
Kelima belas, banyak manusia lalai dari tanda-tanda kekuasaan Allah dan dari sunnatullah yang menetapkan kehancuran bagi setiap penguasa zalim dan sombong.
Keenam belas, para dai tidak gentar terhadap ancaman para zalim. Mereka terus berjalan di jalan dakwah dengan penuh keberanian, bersandar kepada Allah:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”
(QS. Yusuf: 21)
Ketujuh belas, para pembawa kebenaran membutuhkan iman yang kuat, ketergantungan yang kokoh kepada Allah, dan keteguhan yang menenangkan hati.
Kedelapan belas, di antara sebab kemenangan kaum beriman adalah menjauh dari orang-orang kafir dan durhaka apabila nasihat tidak lagi bermanfaat, serta memohon pertolongan dengan sabar dan salat.
Mereka harus membangun kehidupan atas dasar cinta yang tulus, persaudaraan sejati, dan tawakal kepada Allah, karena Dia adalah sebaik-baik pelindung:
نِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ
“Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”
(QS. Al-Anfal: 40)
Kesembilan belas, salah satu tanda iman yang benar adalah adanya kecemburuan terhadap agama Allah. Salah satu bentuknya adalah berharap hilangnya kenikmatan dari tangan orang-orang yang terus-menerus kufur, apabila kenikmatan itu menjadi sebab penindasan terhadap kaum beriman.
Kedua puluh, berpegang teguh kepada agama Allah membuat seseorang tidak takut terhadap ancaman para zalim dan tidak mundur dari menyampaikan risalah Tuhannya.
Kedua puluh satu, pintu tobat dan ampunan selalu terbuka bagi siapa pun yang kembali dari kesesatannya, beramal saleh, dan istiqamah dalam ketaatan.
Pelajaran dari Kisah Nabi Musa dan Sapi Bani Israil
Adapun pelajaran yang bis kita petik dari kisah Nabi Musa dengan Sapi dari Bani Israil antara lain adalah:
Pertama, kisah ini menunjukkan watak keras Bani Israil, buruknya adab mereka terhadap nabi, banyak bertanya tanpa alasan, lamban menjalankan perintah, dan kecenderungan menyimpang dari jalan lurus.
Kedua, kisah ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, karena beliau mengabarkan kisah nyata yang tidak beliau saksikan, melainkan melalui wahyu dari Allah.
Ketiga, kisah ini menunjukkan bahwa sikap berlebihan dalam agama dan terlalu banyak bertanya dapat menyebabkan datangnya kesulitan dalam hukum.
Keempat, kisah ini menunjukkan kekuasaan Allah dalam menghidupkan yang mati, sebagaimana orang mati dihidupkan melalui perantara bagian dari sapi yang disembelih.
Pelajaran dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir as
Sementara pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir as adalah:
Pertama, manusia harus terus mencari ilmu walaupun telah memiliki banyak pengetahuan:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
(QS. Thaha: 114)
Kedua, perjalanan untuk mencari ilmu adalah sifat orang-orang berakal. Nabi Musa rela menempuh perjalanan berat demi bertemu dengan Nabi Khidir untuk belajar darinya.
Ketiga, manusia boleh mengungkapkan hal-hal manusiawi seperti lapar, haus, letih, dan lupa.
Keempat, ilmu terbagi dua: ilmu yang diperoleh dengan usaha, dan ilmu laduni yang Allah anugerahkan kepada hamba yang Dia kehendaki.
Kelima, seorang murid harus bersikap rendah hati kepada gurunya dan berbicara dengan sopan:
هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar?”
(QS. Al-Kahfi: 66)
Keenam, seorang guru boleh menolak mengajar jika murid belum siap menerima ilmu tersebut.
Ketujuh, seorang guru boleh menetapkan syarat dalam proses belajar, dan seorang murid hendaknya bersabar.
Kedelapan, terkadang boleh menanggung mudarat kecil untuk menghindari mudarat yang lebih besar, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Khidir.
Kesembilan, kehati-hatian dalam menilai sesuatu dan memahami sebab-sebab di balik peristiwa akan menghasilkan keputusan yang benar.
Kesepuluh, orang saleh menjaga adab kepada Allah, seperti Nabi Khidir yang menisbatkan kekurangan kepada dirinya dan menisbatkan kebaikan kepada Allah.
Kesebelas, seorang sahabat hendaknya menjelaskan alasan perpisahan kepada temannya, dan dialog yang baik tidak merusak persahabatan, justru menguatkannya.
Itulah sebagian pelajaran berharga dan hikmah mendalam yang dapat dipetik dari kisah Nabi Musa dan Nabi Harun as dalam Al-Qur’an.

