Perjalanan dalam rangka mencari ilmu telah memberikan kontribusi besar dalam memperkuat ikatan hubungan keilmuan antara Yaman dan wilayah-wilayah Islam lainnya.
Perjalanan ini membangun jembatan budaya yang tiada putus, tempat para ulama saling bertukar gagasan, mentransfer ilmu pengetahuan, dan memperluas wawasan dari seluruh penjuru dunia Islam menuju Yaman, maupun sebaliknya. Hal inilah yang menjadikan Yaman sebagai pusat peradaban yang memikat hati banyak cendekiawan.
Al-Sakhawi (w. 902 H) berkata tentang negeri Yaman:
“Wilayah ini pernah disinggahi oleh para sahabat Nabi, seperti Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ari. Dari sana pula lahir para ulama besar dari kalangan Tabi’in yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru negeri. Terdapat pula sekelompok Tabi’in terkemuka di sana, seperti dua putra Munabbih, Thawus beserta putranya, lalu disusul oleh Ma’mar. Sepanjang era Sahabat, para ulama terus bermunculan di wilayah ini, dan para imam besar rela menempuh perjalanan jauh menuju ke sana. Bahkan, dari masa ke masa, ilmu pengetahuan di Yaman terus mengalami perkembangan pesat.”
Oleh karena itu, sepanjang sejarah peradaban Islam, Yaman menjadi tujuan perjalanan banyak ulama yang datang untuk mencari riwayat hadis dan sanad yang tinggi. Tokoh-tokoh besar sekaliber Imam Syafi’i dan Imam Ahmad tercatat pernah menimba ilmu di sana, disusul oleh para ahli hadis ternama seperti Ishaq bin Rahawaih dan Sufyan Ats-Tsauri.
Pada masa-masa setelah masa keemasan tersebut, para ulama kembali melakukan perjalanan ke Yaman setelah mendengar adanya kebangkitan ilmu pengetahuan di wilayah tersebut.
Hal ini tidak lepas dari peran para sultan Yaman yang sangat apresiatif terhadap ilmu pengetahuan. Mereka memberikan sokongan dana dan penghargaan yang melimpah atas dedikasi para ulama atas usaha mereka.
Para sultan itu bahkan mendorong para ulama untuk datang ke Yaman, dan menawarkan kepada mereka jabatan tinggi, mulai dari posisi sebagai Hakim, pengajaran, bahkan kepemimpinan di wilayah tertentu, sebagai bentuk dorongan agar mereka menetap di Yaman.
Sejarawan Muhammad bin Yusuf Al-Janadi dalam kitabnya As-Suluk fi Thabaqat Al-Ulama wa Al-Muluk menceritakan bahwa para pemandu unta di jalur perjalanan Irak sering kali melantunkan syair: “Perjalanan menuju San’a adalah sebuah keharusan, betapapun panjang dan melelahkan jalannya.”
Perjalanan Para Ulama ke Yaman pada Abad ke-9 Hijriah
Berikut ini adalah para ulama terkenal yang datang ke Yaman pada abad ke-9 Hijriah:
1. Imam Majduddin Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad Al-Firuzabadi (w. 817 H)
Beliau adalah penulis dari kitab Al-Qamus Al-Muhit.
Beliau tiba di Yaman pada tahun 796 H melalui pelabuhan Aden, kemudian menetap di kota Zabid. Kedatangannya disambut dengan penghormatan yang luar biasa oleh Raja Al-Asyraf II Ismail. Masyarakat Yaman mendapatkan manfaat yang sangat besar dari kehadirannya, mengingat beliau adalah ulama besar di bidang hadis, bahasa, dan fikih pada masanya.
Al-Khazraji berkata dalam kitabnya “Al-‘Uqd al-Fakhir”:
“Ketika namanya disebut di hadapan Sultan al-Asyraf dan diketahui bahwa ia berada di Aden, maka Sultan memanggilnya ke kota Taiz dan menulis kepada penguasa Aden agar memberinya seribu dinar sebagai bekal perjalanan. Ia pun diberangkatkan dengan itu. Ketika sampai di Taiz, Sultan menempatkannya di rumah yang layak dan memberinya seribu dinar sebagai bentuk jamuan.”
Ia juga berkata:
“Ketika ia sampai di Taiz, para penuntut ilmu, para ahli fikih, dan orang-orang dari berbagai tempat berkumpul di sekelilingnya, lalu mereka mendengarkan darinya kitab-kitab hadis dan tafsir serta memperoleh faidah ilmu yang sangat berharga.”
Ia juga berkata:
“Sultan Al-Asyraf sendiri ikut duduk belajar hadis darinya. Sultan sangat mencintai dan memuliakannya, sehingga setiap pandangan Al-Firuzabadi selalu didengar dan bantuannya selalu diterima.
Bahkan Raja al-Asyraf menikahi putri al-Fairuzabadi agar ia tetap tinggal di Yaman.
Sejarawan Ismail al-Akwa’ berkata:
“Al-Asyraf menikahi putrinya untuk mengikatnya agar tidak meninggalkan Yaman, dan memberikan kepadanya rezeki yang luas.”
Kedatangan Al-Firuzabadi dianggap sebagai pembukaan pintu ilmu bagi Yaman. Meski ilmunya seluas lautan, ia tetap menunjukkan ketawadhuan. Sultan Al-Asyraf sangat memperhatikan majelis ilmu beliau, hingga menyediakan hidangan makanan dan minuman gratis bagi siapa saja yang hadir—satu kali sebelum majelis dimulai, dan satu kali lagi setelahnya.
Al-Burayhi berkata:
“Beliau berada pada derajat tertinggi dalam ilmu, seorang imam besar yang menguasai banyak disiplin ilmu, memiliki banyak karya, tajam pemikirannya, kokoh dalam ilmu, tidak ada yang menandingi di zamannya…” (8)
Ketika Al-Firuzabadi menyusun kitab “Al-Is’ad bil Ish’ad ila Darajat Al-Ijtihad” dalam tiga jilid, kitab tersebut dipersembahkan kepada Sultan Al-Ashraf pada 15 Syaban 800 H. Sebagai bentuk apresiasi, Sultan menghadiahinya 3.000 dinar.
Ketika Al-Firuzabadi meminta izin kepada Sultan untuk kembali ke Makkah. Sultan Al-Asyraf menjawab:
“Permintaan ini adalah sesuatu yang lidahku tak sanggup ucapkan dan penaku tak sanggup untuk dituliskan. Dulu Yaman ini buta, lalu menjadi terang benderang karenamu. Bagaimana mungkin engkau pergi, padahal engkau tahu bahwa Allah telah menghidupkan kembali ilmu yang mati di sini melalui perantaramu. Demi Allah, tolong habiskan sisa umurmu bersama kami. Demi Allah wahai Majduddin, aku lebih rela berpisah dengan dunia dan segala kenikmatannya, daripada harus berpisah denganmu. Engkaulah Yaman dan seluruh penduduknya.”
Sultan Al-Asyraf mengangkat beliau menjadi Qadhi Al-Qudhat (Hakim Agung) untuk seluruh wilayah Kesultanan Yaman. Jabatan ini diembannya selama lebih dari 20 tahun hingga beliau wafat di Zabid pada tahun 817 H.
Keberadaannya di Yaman berhasil menarik banyak pelajar dari seluruh dunia Islam yang ingin mendapatkan ijazah dan sanad keilmuan langsung darinya.
2. Al-Hafizh Ahmad bin Hajar bin Ali bin Muhammad Al-Asqalani (Ibnu Hajar) (w. 852 H)
Ibnu Hajar masuk ke Yaman sebanyak dua kali, yakni pada tahun 800 H dan 806 H. Setiap kali ia datang, ia mendapat penghormatan besar dari para sultan Yaman. Ulama Yaman mengambil manfaat darinya, mendengar sebagian hadis darinya, dan meminta ijazah darinya.
Mengetahui kedatangan Ibnu Hajar, Raja Al-Asyraf Ismail segera mengundangnya ke Zabid dan menyambutnya dengan penghormatan yang sangat besar.
Ia bertemu dengan banyak ulama di Taiz, Zabid, Aden, dan wilayah lainnya.
Al-Sakhawi berkata:
“Ia kembali dari Yaman dalam keadaan ilmunya bertambah dan pengetahuannya semakin luas.”
Ia bertemu dengan ulama besar seperti Ismail bin al-Muqri’, penulis Unwan Asy-Syaraf. Ibnu Hajar sangat mengagumi kecerdasannya dan memujinya sebagai sosok yang kecerdasan dan kemampuan sastranya melampaui penyair besar Abu Ath-Thayyib
Ibn Hajar berkata: “Tidak ada yang lebih berilmu darinya di Yaman…”
3. Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf Asy-Syams Abu Al-Khair, yang dikenal sebagai Ibnu Al-Jazari (w. 833 H)
Ibnu Al-Jazari tiba di Yaman pada tahun 828 H pada masa Sultan al-Mansur Abdullah. Ia disambut dengan sangat baik.
Beliau mengajar di Masjid Al-Masyithah dan Masjid Al-Asya’ir di Zabid. Majelisnya mengajarkan kitab-kitab hadis primer seperti Musnad Syafi’i, Sunan An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Hebatnya, Sultan Al-Manshur sendiri turut duduk di majelis tersebut untuk menyimak pembacaan kitab Shahih Al-Bukhari.
Saat berpindah ke kota Taiz, majelisnya dihadiri oleh ratusan ulama setempat. Di sanalah beliau mengajarkan karya monumentalnya dalam bidang hadis, yaknk Al-Hisn Al-Hushin, dan karya terbesarnya dalam ilmu tajwid dan qira’at, An-Nasyr fi Al-Qira’at Al-Asyr. Beliau memberikan ijazah keilmuan kepada tokoh-tokoh besar Yaman.
Ketika Ibnu Al-Jazari meninggalkan Yaman, ia mewariskan sebuah revolusi besar dalam ilmu Qira’at. Hampir seluruh pakar Qira’at di Yaman pada abad ke-9 dipastikan memiliki jalur sanad keilmuan yang bermuara kepada beliau atau murid-muridnya.
Penutup
Perjalanan ilmiah di dunia Islam merupakan salah satu ciri utama kehidupan keilmuan. Melalui perjalanan ini terjadi pertemuan langsung antara ulama dan penuntut ilmu, pertukaran riwayat, kitab, dan pengetahuan.
Perjalanan para ulama ke Yaman menjadi salah satu faktor penting berkembangnya kehidupan ilmiah di sana.
Sejarawan al-Burayhi menyebutkan bahwa ada 17 ulama besar yang datang ke Yaman pada abad ke-9 H saja, belum termasuk yang tidak terkenal. Di antara mereka juga ada banyak ulama lain seperti al-Hajjaji, al-Saghani, dan lainnya.

